TERBANG KE PUNCAK BOGOR

Eko Sudarmanto, Dosen POR UMS menjadi salah satu juri Asian Games ke 18

Eko Sudarmanto, S.Pd., M. Or, atau  yang lebih akrab disapa Pak Eko di kalangan mahasiswa POR FKIP UMS ini memang tengah naik daun di dunia olahraga paralayang. Bagaimana tidak, Dosen yang berasal dari Karanganyar ini baru-baru ini terpilih menjadi bagian dalam ajang multievent 4 tahunan terbesar di Benua Asia yakni Asian Games ke 18 yang secara kebetulan bakal diselenggarakan di Indonesia. Paragliding atau yang lebih populer dikenal  olahraga paralayang di Indonesia saat ini memang tengah berkembang pesat, “Olahraga ini mengalami perkembangan yang cukup cepat dan tidak menutup kemungkinan perkembangannya akan menuju ke level yang lebih tinggi lagi yakni olimpiade.” ujar beliau saat ditemui di ruang kerjanya.

 

Meski sudah cukup populer di Indonesia, olahraga ini awalnya merupakan olahraga dalam kategori rekreasi yang kemudian dimasukkan ke event olahraga resmi. Mengutip dari  situs Bola.com olahraga ekstrem ini memang baru bergabung di Asian Games ke 18 berdasarkan keputusan Sidang Umum Dewan Olimpiade Asia (OCA) Tanggal 25 September  di Vietnam dengan mempertandingkan 2 kategori yakni acrobatic dan cross country.

 

Beliau berstatus sebagai pilot aktif dan sering dipercaya sebagai juri di berbagai event paralayang

Untuk menjadi juri dalam olahraga ini memang diperlukan keahlian yang memadai. Dosen yang berkecimpung di dunia paralayang sejak Tahun 2008 silam ini menceritakan sedikit mengenai dunia paralayang khususnya di penjurian pada  paralayang. Untuk menjadi juri di kejuaraan resmi memang tidak mudah, seseorang  diharuskan memiliki sertifikat/ lisensi yang hanya bisa didapatkan dengan mengikuti penataran juri paralayang, juri merupakan pilot aktif dengan  minimal melakukan penerbangan  4 sampai 5 kali dalam setahun,  untuk menjadi juri di event internasional seperti  Asian Games harus melewati beberapa produr atau syarat yang ditetapkan oleh penyelenggara. “Kalau untuk Asian Games – 18  kriteria calon wasit memang  dinilai mulai dari tingkat daerah hingga nasional oleh Komite Penilaian Lomba Paralayang (KPLP) baru kemudian di uji kelayakan oleh INASGOC selaku penyelenggara Event Asian Games”, beliau menambahkan.

 

Syarat lainnya adalah sudah mengikuti workshop-workshop  penjurian dan memiliki pengalaman yang dibuktikan dengan keikutsertaan dalam event baik itu tingkat daerah maupun internasional. Berbicara mengenai pengalaman, Dosen yang dikenal ramah oleh mahasiswa ini memiliki segudang prestasi didunia perwasitan baik daerah maupun event skala internasional.  Beberapa waktu lalu beliau dipanggil di event Paralayang di Manado pada 17-19 Maret 2017 yang bertajuk “Paragliding Accuracy World Cup” (PGAWC) dengan total 12 negara yang berpartisipasi,  kemudian seri ketiga PGAWC  yang diadakan di kota Batu Malang  13-15 Juli 2018 dengan total peserta 132 dari 15 negara yang ikut ambil bagian, kemudian Kejurnas baru baru ini di Kemuning Karanganyar beliau juga turut ambil bagian. “Intinya jika ingin berkembang, kita harus keluar dari zona nyaman.” ucap beliau saat menutup sesi pertemuan di ruang kerjanya siang itu.

HMP POST. By ([email protected])

Scroll to Top